Beranda » Tak Berkategori » Hewan-hewan Langka di Indonesia (Part 1)

Hewan-hewan Langka di Indonesia (Part 1)

Burung Cendrawasih

Burung Cendrawasih, burung yang sudah termasuk langka.

Burung jalak bali

Burung jalak bali juga sedang terancam bahaya kepunahan.

Harimau sumatera

Harimau sumatera, subspesies harimau terkecil yang terancam punah.

Indonesia adalah negara yang kaya dan memiliki ribuan pulau. Di dalamnya pun Indonesia memiliki banyak sekali kekayaan, baik kekayaan alam maupun kekayaan dalam nilai sejarah. Kekayaan-kekayaan tersebut tentu perlu kita lestarikan dan kita banggakan sebagai warga Indonesia. Nah, kekayaan alam Indonesia yang bahkan dikagumi oleh negara lain itu adalah flora dan faunanya. Seiring berkembangnya zaman, flora dan fauna itu pun lama-kelamaan makin sedikit jumlahnya, terutama yang harga jualnya tinggi dan yang banyak dicari oleh para kolektor. Spesies-spesies dari flora dan fauna itu pun sedikit demi sedikit mulai berkurang dan akhirnya punah. Demi menanggulangi kepunahan tersebut, akhirnya Indonesia membuat hukum-hukum tentang kepemilikan hewan langka dan mendirikan penangkaran hewan langka. Tapi tentu saja jumlahnya masih belum meningkat terlalu banyak, Nah, hewan apa saja sih yang sudah termasuk dalam kategori langka dan sedang diperjuangkan untuk melawan bahaya kepunahan? Simak saja artikel ini:

1. Cendrawasih

Siapa yang tidak tahu dengan jenis burung yang satu ini? Keindahan bulu yang dimiliki burung yang hidup di Papua Nugini ini memang tiada duanya, karena itulah orabg-orang menjuluki burung ini sebagai Bird of Paradise atau Burung Surga. Karena keindahannya, burung ini tidak hanya menarik pengagum, tapi juga pemburu. Banyak pemburu yang ingin mengambil bulunya atau menjualnya. Karena pemburuan ilegal tersebut, populasi burung Cendrawasih di Indonesia lama-kelamaan semakin menurun. Ini adalah salah satu dari informasi tentang burung Cendrawasih yang kutemukan di internet:

Burung Cendrawasih merupakan sekumpulan spesies burung yang dikelompokkan dalam famili Paradisaeidae.
Burung yang hanya terdapat di Indonesia bagian timur, Papua Nugini, dan Australia Timur ini terdiri atas 14 genus dan dan sekitar 43 spesies. 30-an spesies diantaranya bisa ditemukan di Indonesia. (Sumber: http://www.scribd.com/doc/81284107/POPULASI-BURUNG-CENDRAWASIH)

2. Jalak Bali

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang lebih kurang 25cm[1], dari suku Sturnidae. Jalak Bali memiliki ciri-ciri khusus, di antaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Burung jantan dan betina serupa.
Endemik Indonesia, Jalak Bali hanya ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini dilindungi undang-undang.
Jalak Bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910. Nama ilmiah Jalak Bali dinamakan menurut pakar hewan berkebangsaan Inggris, Walter Rothschild, sebagai orang pertama yang mendeskripsikan spesies ini ke dunia pengetahuan pada tahun 1912.
Karena penampilannya yang indah dan elok, jalak Bali menjadi salah satu burung yang paling diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas menyebabkan populasi burung ini cepat menyusut dan terancam punah dalam waktu singkat. Untuk mencegah hal ini sampai terjadi, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia menjalankan program penangkaran jalak Bali.
Jalak Bali dinilai statusnya sebagai kritis di dalam IUCN Red List serta didaftarkan dalam CITES Appendix I. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Jalak_bali)

Burung Jalak Bali ini juga mengalami nasib yang sama dengan burung Cendrawasih. Semakin banyak burung elok yang punah, sebagai warga Indonesia kita tidak boleh membiarkannya.

3. Harimau Sumatera

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatera, merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional di Sumatera. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.[2]
Penghancuran habitat merupakan ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara tahun 1998 dan 2000. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Harimau_Sumatera)

Seolah kepunahan itu belum cukup memuaskan, masih ada lagi berita tentang terpasangnya 120 jerat harimau sumatera. Apakah sudah tidak ada lagi belas kasihan untuk spesies harimau yang satu ini? Artikelnya bisa dibaca dibawah:

JAKARTA, KOMPAS.com – Sedikitnya 120 jerat harimau ditemukan dan disita petugas dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Jambi. Jumlah itu baru yang diketahui dari satu taman nasional itu saja, belum lagi di berbagai lokasi di Sumatera.

Kepala Seksi Wilayah II Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Dian Rusdianto, mengatakan, pemasangan jerat menjadi ancaman serius tidak hanya bagi populasi harimau Sumatera, namun juga berbagai binatang dilindungi di kawasan TNKS.

“Selain mengamankan jerat harimau melalui operasi rutin. Kami juga berhasil menolong dua ekor harimau dan satu ekor beruang akibat konflik,” ujar Rusdianto, ketika dihubungi di Bangko, ibukota Kabupaten Merangin, Selasa (20/11/2012).

Menurut dia, ratusan jerat tersebut dipasang para pencoleng di kawasan TNKS. Hasil dari jerat-jerat itu lalu diperjualbelikan melalui pasar gelap.

“Selama periode 2012 kami juga memproses hukum tiga tersangka pemburu harimau yakni dua orang kepala desa di Merangin dan satu orang warga,” jelas dia.

Populasi harimau Sumatera di kawasan TNKS merupakan yang terbanyak dibanding kawasan lain di Indonesia yakni mencapai 165 harimau sumatera berdasarkan data 2011. Oleh karena itu, TNKS ditetapkan sebagai kawasan paling penting pada pelestarian harimau sumatera di Indonesia.

Ancaman bukan hanya dari perburuan maupun pemasangan jerat, keberadaan TNKS seluas kurang lebih 1,4 juta Hektare juga terancam alih fungsi lahan, baik perambahan maupun kegiatan korporasi. Banyak perusahaan besar kelapa sawit menganeksasi lahan-lahan itu untuk kepentingan bisnis mereka.

“Ada beberapa kasus konflik harimau maupun beruang dengan manusia bisa jadi akibat ekosistem yang rusak ini,” katanya.

Untuk menjaga agar ekosistem harimau sumatera tetap terjaga, balai TNKS dan PHS melakukan beberapa program khusus. Pada program tersebut tidak hanya menyangkut pelestarian harimau sumatera, namun juga upaya menjaga keberadaan mangsa harimau sumatera tetap terjaga.

“Sebenarnya yang penting dijaga adalah mangsa itu sendiri, karena harimau bisa berkembang biak pada kondisi apapun asal mangsa tetap ada dan terjaga. Hal ini berbeda dengan kondisi badak sumatera di TNKS yang dinyatakan tidak ada sejak 2004. Badak sumatera betul-betul membutuhkan ekosistem alami untuk berkembang biak,” katanya. (Sumber: http://sains.kompas.com/read/2012/11/20/2102359/120.Jerat.Harimau.Sumatera.Ditemukan.Sepanjang.2012)

Karena post ini menjadi terlalu panjang, maka akan dipisah menjadi beberapa bagian. Kapan bagian selanjutnya dipublikasikan? Secepatnya. (ada penekanan biar dramatis XD) Okee, stay tuned!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s